Menulis ulang bab yang tidak berhasil

· Roberto Sirolo · 3 menit baca

Hampir selalu, dalam sebuah novel, ada satu bab yang tidak mau jalan. Kamu sudah membacanya ulang sepuluh kali, mengganti kalimat, memindahkan paragraf, dan tetap saja tidak berhasil. Godaannya adalah menulis ulang dari nol sambil berharap versi baru akan lebih baik. Kadang itu terjadi; lebih sering versi baru punya masalah yang sama, karena kamu belum tahu apa masalahnya.

Diagnosis dulu, baru menulis ulang

Bab yang "tidak berhasil" adalah perasaan, bukan masalah. Tugasmu adalah mengubah perasaan itu menjadi sesuatu yang tepat. Jawab secara tertulis, dalam beberapa baris, serangkaian pertanyaan: jawabannya akan menunjukkan di mana kamu perlu turun tangan.

Apa fungsi bab ini?

Tulis dalam satu kalimat apa yang harus terjadi di bab ini agar cerita bergerak maju. Jika tidak bisa, kamu sudah menemukan masalahnya: bab itu tidak punya fungsi yang jelas, dan hal itu terasa di halaman.

Fungsi yang mungkin tidak banyak: titik balik dalam alur, sebuah penemuan, keputusan, perubahan dalam hubungan, taruhan yang meningkat. Bab yang hanya "memperlihatkan kehidupan tokoh" biasanya sedang mencari fungsi yang tidak ia miliki.

Apakah ia dimulai dan berakhir di titik yang tepat?

Banyak bab yang lemah dimulai terlalu awal: tokoh datang, melihat sekeliling, menyapa, dan hal yang menarik baru terjadi di tengah. Coba mulai dari momen pertama yang punya ketegangan, dan lihat apa yang sebenarnya hilang.

Hal yang sama berlaku untuk akhir: jika bab terus berjalan setelah titik terkuatnya, pembaca tiba di ujung dalam keadaan sudah kempis.

Apakah sudut pandangnya tepat?

Kadang bab diceritakan oleh tokoh yang salah. Siapa yang paling banyak dirugikan dalam adegan ini? Siapa yang merasakan emosi paling kuat, atau siapa yang tidak tahu sesuatu yang diketahui pembaca? Menulis ulang peristiwa yang sama dari sudut pandang lain bisa mengubahnya sepenuhnya, tanpa menyentuh alurnya.

Apakah sesuatu terjadi, atau hanya dibicarakan?

Masalah umum lainnya: bab melaporkan konflik alih-alih menampilkannya. Para tokoh membahas apa yang sudah terjadi, memikirkan apa yang akan mereka lakukan, mengenang. Tanyakan apakah yang dilaporkan itu bisa terjadi di depan mata pembaca.

Apakah masalahnya memang di sini?

Terakhir, periksa bab sebelumnya. Kadang sebuah bab tidak berhasil karena bab sebelumnya tidak menyiapkan dasarnya: taruhannya tidak jelas, motivasi belum dibangun, pembaca datang tanpa tahu apa yang harus diharapkan. Dalam kasus itu, perbaikan dilakukan di bab sebelumnya, dan bab yang sulit akan membaik dengan sendirinya.

Setelah masalahnya ditemukan, biasanya lebih baik menulis bab itu sebagai versi baru daripada membetulkan versi lama kalimat demi kalimat. Saat membetulkan, kamu tetap terikat pada kalimat dan strukturnya yang lama. Saat menulis ulang, kamu hanya mempertahankan apa yang melayani fungsi barunya.

Biarkan versi lama terbuka sebagai rujukan, dan ambil kembali bagian terbaiknya saat dibutuhkan.

Di NovLore

Sebelum menulis ulang, simpan satu versi bab dari riwayat: kamu selalu bisa membuka versi sebelumnya, membacanya lagi, dan mengambil kembali kalimat yang ingin dipertahankan. Menulis ulang jauh lebih tidak berisiko ketika kamu tahu bisa kembali.

Pertanyaan yang sering diajukan

Bagaimana jika setelah diagnosis bab itu tidak punya fungsi?

Berarti kemungkinan besar bab itu perlu dibuang, atau dilebur dengan bab lain. Itu bukan kekalahan: itu salah satu pemangkasan paling berguna yang bisa dilakukan.

Berapa kali boleh menulis ulang bab yang sama?

Selama setiap penulisan ulang menyelesaikan masalah tertentu. Jika kamu mendapati diri menulis ulang tanpa tahu apa yang dicari, berhentilah, kerjakan bab lain, dan kembali ke diagnosis nanti.

Bolehkah membiarkan bab yang belum sempurna dan terus menulis?

Boleh, terutama di draf pertama. Catat masalahnya dan lanjutkan: sering kali bab-bab berikutnya memperjelas apa yang harus dilakukan bab yang sulit itu.

Lanjut membaca

NovLore adalah studio menulis tempat struktur dan teks karyamu hidup di tempat yang sama.