Tokoh abu-abu secara moral: tidak baik, tidak jahat

· Roberto Sirolo · 2 menit baca

Pahlawan tanpa cela dan penjahat tanpa alasan sudah sulit dipercaya. Tokoh yang membekas justru sering yang membuat kita tidak nyaman: polisi yang melanggar aturan demi menyelamatkan korban, ibu yang berbohong untuk melindungi anaknya yang bersalah, pengkhianat yang berkhianat karena setia kepada orang lain. Mereka adalah tokoh abu-abu secara moral, dan mereka berhasil karena mirip dengan manusia sungguhan.

Abu-abu bukan berarti punya beberapa cacat

Memberi pahlawan satu kebiasaan buruk (ia pemarah, terlalu banyak minum) tidak membuatnya abu-abu. Seorang tokoh ambigu secara moral ketika pilihan-pilihannya memunculkan persoalan moral yang sungguhan: ia melakukan hal yang salah dengan alasan yang dipahami pembaca, atau melakukan hal yang benar dengan cara yang patut dipertanyakan.

Ambiguitas itu ada pada tindakan, bukan pada watak.

Motif yang bisa dipahami

Pembaca tidak harus menyetujui tokoh abu-abu, tetapi harus memahaminya. Jika pembaca paham mengapa tokoh itu bertindak demikian, ia masuk ke konflik yang menarik: "Aku tidak akan melakukannya. Atau mungkin aku akan?"

Motif paling kuat bersifat universal: melindungi seseorang, bertahan hidup, memperbaiki ketidakadilan, kesetiaan, cinta, rasa takut. Ketika salah satu penggerak itu ada di balik pilihan yang mengerikan, tokoh berhenti menjadi monster dan menjadi manusia.

Kode pribadi

Tokoh abu-abu yang paling berhasil punya kode: nilai-nilai sendiri, mungkin berbeda dari nilai umum, dan batas yang tidak ia langgar. Pencuri yang tidak mencuri dari orang miskin, pembunuh yang tidak menyentuh anak-anak, politikus korup yang tidak pernah mengkhianati orang yang setia padanya.

Kode membuat tokoh konsisten, bisa ditebak dalam ketidakterdugaannya. Dan momen paling kuat datang ketika cerita memaksanya mendekati batas itu.

Pilihan harus menuntut harga

Tokoh abu-abu yang melakukan hal patut dipertanyakan tanpa pernah menanggung akibatnya hanya menjadi pahlawan yang punya izin. Pilihan yang ambigu harus berakibat: hubungan yang rusak, rasa bersalah, kepercayaan yang hilang, kerugian bagi orang tak bersalah. Harga itulah yang membuat persoalan moralnya nyata, bukan sekadar gaya.

Jangan menghakimi untuk pembaca

Narator maupun penulis tidak perlu memberi tahu pembaca apa yang harus dipikirkan. Jika setiap tindakan yang patut dipertanyakan disertai penjelasan yang membenarkannya, atau komentar yang mengecamnya, ambiguitas pun lenyap. Tunjukkan pilihan, alasan, dan akibatnya, lalu serahkan penilaian kepada pembaca. Dengan begitu tokoh tetap tinggal di kepala pembaca bahkan setelah buku selesai.

Abu-abu di samping apa?

Tokoh abu-abu lebih menonjol jika dikelilingi sikap yang berbeda: seseorang yang lebih kaku, seseorang yang lebih tanpa kompromi. Kontras memunculkan gradasinya. Seluruh jajaran tokoh yang sama-sama ambigu justru berisiko meratakan semuanya menjadi satu warna abu-abu.

Pertanyaan yang sering diajukan

Bisakah tokoh utama abu-abu secara moral?

Bisa, dan banyak novel berkesan bertumpu pada tokoh utama seperti itu. Kamu perlu memberi pembaca alasan untuk mengikutinya: motif yang dipahami, tujuan yang sama-sama diinginkan, atau kemampuan yang memukau.

Bagaimana agar pembaca tidak membencinya?

Dengan memperlihatkan alasannya dan beberapa momen kerentanan, tanpa membenarkannya. Pembaca boleh tidak menyukainya dan tetap ingin tahu lebih banyak tentangnya.

Apakah antagonis juga sebaiknya abu-abu?

Sering kali itu membuat cerita lebih baik, karena antagonis dengan alasan yang bisa dipahami menciptakan konflik yang lebih dalam. Tetapi antagonis yang jelas jahat tetap sah, terutama di beberapa genre.

Lanjut membaca

NovLore adalah studio menulis tempat struktur dan teks karyamu hidup di tempat yang sama.