Dari Mana Mulai Menulis Novel Pertamamu

· Roberto Sirolo · 3 menit baca

Yang belum pernah menulis novel sering terjebak bahkan sebelum mulai, mencari titik awal yang "benar": ide, kerangka, tokoh. Pertanyaannya salah rumusan. Novelis yang berbeda mulai dari tempat berbeda — sebuah citra yang berulang, pertanyaan yang tak bisa dijawab, suara yang sudah terdengar bicara — dan semua titik awal ini bisa berhasil. Masalah nyata bagi yang menulis novel pertama bukan dari mana ia mulai, tapi apa yang dia tahu sebelum menulis bab kelima.

Masalah semu: ide, kerangka, atau tokoh

Banyak saran menulis memperlakukan "mulai dari ide", "mulai dari kerangka", dan "mulai dari tokoh" sebagai tiga aliran yang bersaing, masing-masing dengan pendukungnya. Dalam praktik, ketiganya adalah tiga pintu berbeda menuju ruangan yang sama: ide yang kuat hampir selalu menyiratkan tokoh yang menjalaninya dan struktur yang mengembangkannya, meski kamu belum menuliskannya. Tokoh yang hidup menyiratkan keinginan, dan keinginan menyiratkan plot. Tak ada urutan sakral — hanya ada titik yang bagimu paling mudah difokuskan lebih dulu, dan dari situ kamu bisa membangun dua yang lain.

Risiko sesungguhnya bukan memilih pintu yang salah, tapi terus yakin harus punya ketiga ruangan lengkap sebelum menulis baris pertama. Tak ada novel yang lahir lengkap di kepala: kebanyakan ditemukan sambil menulis, bukan sebelum menulis.

Tiga hal yang harus kamu tahu sebelum menulis bab kelima

Yang justru layak diperjelas lebih awal, sebelum menumpuk terlalu banyak halaman ke arah yang salah, adalah tiga pertanyaan sederhana: milik siapa cerita ini — milik siapa sudut pandangnya — apa yang diinginkan tokoh itu, dan apa konkretnya yang menghalanginya. Tak butuh jawaban final: cukup jawaban yang cukup kuat untuk menopang sepuluh bab, sambil tahu itu bisa berubah.

Gejala orang yang menulis tanpa tiga hal ini jelas mudah dikenali: bab-bab yang secara teknis ditulis baik, kalimat demi kalimat, tapi tak terasa menuju ke mana pun, karena memang tak menuju ke mana pun — kehilangan mesin penggerak. Kalau kamu mendapati diri membaca ulang apa yang sudah ditulis sambil bertanya "terus sekarang apa yang terjadi", hampir selalu jawabannya bukan "terus menulis sampai kamu menemukannya", tapi kembali ke tiga pertanyaan ini sebelum melanjutkan.

Kenapa tak perlu kerangka lengkap untuk memulai

Kesalahan sebaliknya, sama umumnya pada yang baru mulai, adalah percaya harus merencanakan seluruh novel, bab demi bab, sebelum menulis halaman pertama — dan terjebak berbulan-bulan di fase perencanaan karena kerangka sempurna tak pernah datang. Struktur yang jelas sangat membantu, tapi "jelas" tak berarti "lengkap sampai detail": cukup tahu bagaimana ia mulai, apa yang berubah tak bisa dibalik di tengah buku, dan bagaimana — untuk saat ini — kamu ingin ia berakhir. Sisanya terisi sambil menulis, dan wajar kalau berubah.

Memperlakukan kerangka pertama sebagai hipotesis kerja, bukan kontrak, menghilangkan tekanan yang membuntukan banyak penulis pemula: kamu bisa mengoreksinya sambil buku memberitahumu apa yang sebenarnya ingin ia jadi, alih-alih merasa bersalah setiap kali menyimpang darinya.

Bab pertama tak harus jadi yang bagus

Jebakan terakhir yang khas bagi yang menulis novel pertama adalah menghabiskan berminggu-minggu menghaluskan bab pertama sebelum melanjutkan, seolah ia harus keluar sempurna untuk bisa lanjut. Hampir selalu tak begitu: bab pertama yang benar-benar akan berhasil, yang akan berakhir di versi yang bisa diterbitkan, sering baru ditulis dengan baik setelah seluruh buku selesai, ketika kamu benar-benar tahu cerita yang kamu tulis itu tentang apa. Bab pertama dari draf pertama punya satu tugas saja: membuatmu masuk ke dalam cerita. Kamu boleh membiarkannya tak sempurna.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah aku harus punya kerangka lengkap sebelum mulai menulis?

Tidak. Cukup tahu sudut pandang, apa yang diinginkan protagonis, dan apa yang menghalanginya, ditambah gambaran kasar awal, tengah, dan akhir. Sisa kerangka bisa — bahkan hampir selalu lebih baik — dilengkapi sambil menulis, saat cerita memberimu informasi yang tak bisa kamu dapat di tahap perencanaan.

Berapa banyak yang harus kutulis sebelum tahu apakah idenya kuat?

Umumnya butuh setidaknya tiga atau empat bab setelah pembuka: awal novel hampir selalu berhasil karena itu bagian yang paling banyak diuji dalam pikiran sebelum ditulis. Justru saat tokoh harus menghadapi komplikasi sungguhan pertama, di luar situasi awal, barulah terlihat apakah idenya punya cukup bahan untuk menopang satu buku utuh atau cuma satu cerpen.

Lanjut membaca

NovLore adalah studio menulis tempat struktur dan teks karyamu hidup di tempat yang sama.