Kesalahan Umum Penulis Novel Pertama

· Roberto Sirolo · 3 menit baca

Setiap penulis pemula percaya kesalahannya sendiri, personal, tanda bakat yang masih mentah. Padahal kebanyakan masalah novel pertama sangat bisa diprediksi: muncul nyaris identik dari satu naskah ke naskah lain, karena lahir dari dua dorongan yang sama — keinginan membuat semua langsung dipahami, dan ketakutan melanjutkan sebelum setiap halaman sempurna. Mengenalinya lebih awal tak mengurangi bakat sedikit pun: hanya menghemat berbulan-bulan penulisan ulang yang bisa dihindari.

Menjelaskan dunia alih-alih menghidupkannya

Dorongan pertama yang muncul pada yang menulis novel dengan latar minimal — sejarah, fantasi, bahkan sekadar pekerjaan yang kurang dikenal — adalah menjelaskan semua yang perlu diketahui pembaca sebelum cerita benar-benar dimulai: halaman demi halaman konteks, aturan dunia, sejarah keluarga protagonis, sebelum apa pun terjadi. Padahal pembaca belum punya alasan ingin tahu semua ini: dia belum kenal tokoh-tokohnya, belum punya alasan penasaran.

Informasi yang di bab-bab awal terasa mutlak perlu hampir selalu sebenarnya tidak: cukup yang diperlukan untuk memahami adegan yang sedang berlangsung, dan sisanya datang belakangan, saat pembaca sudah punya alasan ingin tahu. Ini prinsip yang sama dengan menunjukkan alih-alih menceritakan: sebuah aturan dunia terasa lebih baik ketika dilanggar seorang tokoh dan ia menanggung akibatnya, dibanding ketika didaftar dalam satu paragraf terpisah.

Terlalu banyak tokoh, terlalu cepat

Kesalahan khas kedua adalah antusiasme dunia yang baru diciptakan: di bab-bab awal muncul lima, enam, delapan tokoh dengan nama dan peran, sering dalam adegan yang sama. Pembaca belum punya alasan mengingat mereka — dia belum tahu siapa yang benar-benar akan penting — dan hasilnya dia melupakan semuanya, termasuk yang penting.

Koreksi paling efektif, hampir selalu, bukan memotong tokoh dari plot, tapi mengencerkan kemunculannya: hanya munculkan yang diperlukan adegan itu spesifik, dan tunda yang lain sampai pembaca sudah punya kaitan emosional untuk mengingat mereka. Tokoh yang diperkenalkan pelan-pelan, di momen dia benar-benar penting, jauh lebih diingat daripada satu yang disajikan buru-buru di bab satu bersama lima yang lain.

Prolog yang menceritakan hal yang seharusnya ditemukan sendiri oleh buku

Kesalahan spesifik, sangat umum di novel pertama terutama genre fantasi atau sejarah, adalah prolog yang meringkas kejadian masa lalu, ramalan, atau latar belakang sebelum cerita sungguhan dimulai. Niatnya bisa dimengerti — memberi pembaca konteks untuk memahami semuanya — tapi efeknya sering justru sebaliknya: buku kehilangan kesempatan membiarkan informasi yang sama ditemukan lewat plot, yang hampir selalu jauh lebih menarik dibanding ringkasan.

Tes praktisnya adalah bertanya apa yang terjadi kalau prolog dihilangkan sepenuhnya: kalau buku tetap berfungsi, kemungkinan besar prolog itu ada untuk menenangkan yang menulis, bukan untuk melayani yang membaca.

Bab satu yang disempurnakan tanpa henti

Kesalahan terakhir berbeda dari yang lain: bukan soal apa yang berakhir di halaman, tapi waktu yang dihabiskan menulis ulang bab yang sama sebelum melanjutkan. Ini bisa dimengerti — bab satu adalah yang paling sering dibaca ulang, jadi selalu tampak paling bisa diperbaiki — tapi biayanya tinggi: berbulan-bulan dihabiskan menghaluskan sebuah pembuka yang, hampir pasti, akan berubah lagi setelah sisa buku selesai, saat kamu benar-benar tahu cerita itu sebenarnya tentang apa.

Koreksinya hampir berlawanan intuisi bagi yang baru mulai: selesaikan dulu seluruh draf pertama, dengan segala ketidaksempurnaannya, dan baru setelah itu kembali ke bab satu dengan seluruh cerita sudah di depan mata. Jauh lebih mudah menulis pembuka yang bagus untuk buku yang sudah ada dibanding untuk buku yang masih hanya ada di kepalamu.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Harus kah aku mengoreksi kesalahan ini begitu kusadari, atau terus menulis?

Lebih baik catat dan lanjutkan. Berhenti mengoreksi setiap kali menyadari masalah mengganggu alur draf pertama, yang punya tujuan berbeda: sampai akhir sambil benar-benar tahu buku ini tentang apa. Koreksi sungguhan, yang benar-benar berarti, datang belakangan, di tahap editing, saat kamu melihat seluruh buku alih-alih satu adegan terisolasi.

Apakah wajar novel pertama belum siap terbit apa adanya?

Ya, dan ini norma lebih dari pengecualian, bagi kebanyakan yang menulis. Novel pertama terutama berguna untuk belajar menyelesaikan satu buku utuh — kemampuan tersendiri, berbeda dari menulis satu adegan dengan baik — dan kesalahan-kesalahan yang dijelaskan di sini jauh lebih cepat dikenali di novel kedua dibanding yang pertama, justru karena sementara itu kamu sudah pernah melihatnya sekali.

Lanjut membaca

NovLore adalah studio menulis tempat struktur dan teks karyamu hidup di tempat yang sama.