Perfeksionisme dan draf pertama

· Roberto Sirolo · 3 menit baca

Perfeksionisme tampak seperti kebajikan yang diterapkan pada menulis: siapa yang tak mau teks yang tanpa cela? Tetapi dalam draf pertama ia hampir selalu penghalang, dan sering sesuatu yang lain dalam penyamaran. Mengenalinya dan menetralkannya selama diperlukan adalah salah satu kecakapan yang memisahkan yang menyelesaikan buku dari yang punya lima setengah jadi.

Draf pertama memang untuk jelek

Draf pertama punya satu tugas: membawa cerita dari awal ke akhir, agar kau bisa melihatnya utuh dan memahami apa yang berhasil. Ia tak harus bagus. Malah, draf pertama yang ditulis "baik" sering adalah draf pertama yang ditulis lambat, karena waktu yang dipakai mengilapkan kalimat adalah waktu yang direbut dari penemuan struktur.

Banyak penulis profesional mengatakannya terang-terangan: draf pertama adalah tempat orang keliru, dan itu tak apa. Mutu datang sesudahnya, dan datang lebih mudah kalau ada teks utuh untuk digarap.

Perfeksionisme adalah rasa takut yang menyamar sebagai standar

Ketika kau macet karena "babnya belum cukup bagus", layak bertanya apa yang ada di baliknya. Sering itu bukan cinta pada mutu: melainkan cemas untuk maju dan menemukan bahwa ceritanya tak bertahan, atau cemas akan penilaian seseorang, atau perasaan bahwa selama teks "dalam proses" ia tak bisa dikritik. Perfeksionisme memberi rasa takut ini bentuk yang terhormat.

Mengenali ini tak membuatnya lenyap, tetapi mencabut alibinya.

Ongkos mengilapkan bab satu empat puluh kali

Gejala klasik: bab satu sangat mengilap, sisa buku tak ada. Menyempurnakan bab yang sama puluhan kali memberi kesan bekerja, tetapi tak memajukan buku, dan sering waktu yang terbuang: ketika kau selesai draf, bab itu tetap harus ditulis ulang, karena kau akan tahu hal-hal tentang cerita yang kini tak kau tahu.

Bab pertama dibetulkan terakhir, bukan pertama.

Penanda: memberi izin diri menunda

Ketika kau sadar berhenti pada sebuah detail — deskripsi sebuah tempat, nama tokoh pendukung, satu dialog yang tak keluar — tulis penanda dan maju: "[deskripsikan kamarnya nanti]", "[NAMA]", "[di sini mereka bertengkar, betulkan dialog di revisi]". Penanda menyimpan niat tanpa memintamu menyelesaikannya sekarang, dan cerita terus bergerak.

Di akhir kau akan punya daftar hal yang harus dibetulkan, dan itu jauh lebih baik daripada daftar bab yang tak ditulis.

Standar draf pertama adalah "selesai"

Ubah tolok ukur untuk tahap ini. Bukan "apakah bagus?" melainkan "apakah aku sampai ke ujung?". Draf pertama yang jelek dan lengkap bernilai jauh lebih besar daripada setengah draf pertama yang indah: yang pertama bisa direvisi, yang kedua tidak. Beri dirimu izin tegas untuk menulis jelek, dengan janji pada diri sendiri bahwa kau akan membetulkan semuanya sesudahnya.

Si perfeksionis berguna, tetapi nanti

Perfeksionisme bukan cacat yang harus dihapus: ia alat yang ampuh, di tempat yang tepat. Tempat itu adalah revisi, di mana tuntutan agar tiap kalimat sebaik mungkin menghasilkan hasil yang nyata. Di NovLore revisi bisa berjalan bertingkat dan riwayat versi membekukan tiap langkah, jadi kau bisa melepas si perfeksionis pada teks yang selesai tanpa risiko merusak sesuatu: kalau sebuah versi mengikir terlalu banyak, kau kembali ke yang sebelumnya. Draf pertama, sebaliknya, tetap ruang di mana keliru diperbolehkan.

Pertanyaan yang sering diajukan

Kalau saya menulis jelek di draf pertama, tidakkah saya berisiko mengambil kebiasaan buruk?

Tidak. Mutu prosa dibangun dalam revisi dan lewat latihan pada banyak teks, bukan dengan menahan tiap kalimat draf pertama sampai sempurna. Menulis cepat dan kasar lalu merevisi dengan cermat adalah metode banyak sekali penulis yang sudah terbit.

Bagaimana saya membedakan perfeksionisme dari masalah nyata pada cerita?

Masalah nyata punya bentuk tegas yang bisa kau namai ("tokoh ini tak punya alasan untuk tinggal"). Perfeksionisme adalah rasa tak nyaman yang samar, tanpa cacat yang bisa ditunjuk ("belum meyakinkan", "belum cukup"). Kalau kau tak bisa mengatakan apa yang salah, itu sering perfeksionisme.

Bolehkah meninggalkan penanda juga untuk adegan utuh?

Boleh. "[ADEGAN: konfrontasi dengan ayah — kutulis kalau aku tahu bagaimana buku berakhir]" adalah pilihan yang sah. Banyak adegan ditulis lebih baik ketika kau tahu sisa cerita, dan memaksanya dalam urutan kronologis adalah sumber blokade yang umum.

Lanjut membaca

NovLore adalah studio menulis tempat struktur dan teks karyamu hidup di tempat yang sama.